BAB
II
PEMBAHASAN
A.Anaximandros
Anaximandros(610-547 M) adalah murid Thales.Usianya
limabelas tahun lebih muda dari pada Thales,tetapi meninggal dunia dua tahun
lebih dahulu.Sebagai filosof,ia lebih besar daripada gurunya.Ia juga ahli
astronomi,di samping itu,ia juga ahli ilmu bumi.Ia adalah orang pertama yang
mengarang suatu traktat dalam kesusasteraan Yunani .Ia merupakan orang pertama
yang membuat peta bumi.Ia berhasil memimpin sekelompok orang yang membuat kota
baru di Apollonia,Yunani.[1]
Sama halnya dengan gurunya,Anaximandos juga ingin
mencari asal dari segalanya.Ia tidak menerima saja apa yang diajarkan oleh
gurunya.Yang dapat diterima akalnya adalah bahwa yang asal itu satu,tidak
banyak.Akan tetapi,yang satu itu bukan air,dan bukan suatu anasir yang dapat diamati
oleh pancaindra,menurut Anaximondros,segala sesuatu itu berasal dari to apeiron,yaitu yang tak terbatas,sesuatu
yang tidak terhingga,tanpa bentuk dan
batas,sehingga tidak ada yang menyerupai dia.Apeiron atau infinitas
memiliki sifat yang abadi,tidak pernah musnah dan dapat dihancurkan,oleh sebab
memang ia tidah tampak.Kenyataan”ADA’’ nya Aperion
karena kentataan ke “KETIADAAN” nya,sehingga apabila ia “ada” berarti ia
“tiada”,sebab ia menjadi terbatas dapat diamati bentuk nya dan dengan
sendirinya dapat dimusnahkan.
Menurut Anaximandros,Apeiron itu tidak dapat dirupakan,tidak ada persamaanya dengan
salah satu barang yang kelihatan di dunia ini,sebab segala yang kelihatan
itu,yang dapat ditentukan rupanya dengan pancaindra kita adalah barang yang mempunyai akhir yang
berhingga.Oleh sebab itu ,apeiron adalah
barang yang asal,yang tidak berhingga dan tidak berkeputusan itu mustahil bagi
salah satu dari barang yang berakhir itu.Segala yang tampak dan terasa di
batasi oleh lawannya.Yang panas dibatasi oleh yang dingin.Di mana bermula yang
dingin,disana yang berakhir panas.Yang cair dibatasi oleh yang beku.Yang terang
dibatasi oleh yang gelap.Bagaimana yang terbatas itu dapat memberikan sifat
kepada yang tidak berkeputusan.[2]
Segala yang tampak dan terasa,segala yang dapat
ditentukan rupanya dengan pancaindra
kita.semuanya itu mempunyai akhir.Ia timbul (jadi),hidup,mati,dan lenyap.Segala
yang berakhir berada dalam kejadian
senantiasa,yaitu dalam keadaan berpisah dari yang satu kepada yang lain.Yang
cair menjadi beku dan sebaliknya.Semuanya itu terjadi dari ada Apeiron dan kembali pula kepada Apeiron
. Kemudian Anaximondros menerangkan bagaimana dari Apeiron timbul alam
semesta.Bermula dari Apeiron,keluarlah yang panas yang dingin.Yang panas
membalut yang dingin sehingga yang dingin itu terkandung didalam nya.Dari yang
dingin itu terjadi lah yang cair dan yang beku.Yang beku inilah kemudian yang
menjadi bumi.Api yang membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula,dan
pecahan-pecahan itu berputar-putar,dan kemudian terpisah-pisah maka terjadilah
matahari,bulan dan bintang-bintang.Adapun bumi pada iwalnya dibalut oleh uap
yang basah.Karena berputar terus-menerus,yang basah itu secara berangsur-angsur
menjadi kering,akhirnya tinggallah sisa uap yang basah itu sebagai laut pada
bumi.
Mengenai terjadinya mahluk di bumi,Anaximondros
menerangkan bahwa atas pengaruh yang pantas tersebut,dari uap yang basah di
bumi itu terjadilah mahluk hidup,yang kemudian secara bertingkat-tingkat
mengelami kemajuan dalam hidupnya.Pada mulanya,bumi ini diliputi air
semata-mata.Oleh sebab itu,makhluk pertama di atas bumi ialah hewan yang hidup
di dalam air,seperti ikan.Akan tetapi,setelah tanah semakin kering,maka
timbullah daratan maka makhluk yang lain mulai berkembang di atas daratan.
Mengenai manusia,Anaximondros mengatakan bahwa dari binatang yang berupa ikan
itulah terjadi manusia yang pertama.Manusia bermula tidak bias serupa dengan
manusia sekarang,sebab orang yang dilahirkan dalam bentuk bayi sekarang
memerlukan asuhan yang orang lain.Mahluk seperti itu tidak bias hidup pada
permulaan penghidupan di atas dunia ini.Satu-satunya yang bias menolong dirinya
sendiri sejak lain hanyalah binatang berupa ikan.
Pendapat Anaximondros tentang kejadian dan kemajuan
mahluk di dunia ini banyak menyerupai teori evolusi Darwin yang muncul pada
abad ke-19.Tidak heran,kalau orang mengarang lelucon bahwa Anaximondros patut
dipandang sebagai ‘’Darwinis’’,yaitu
pengikut Darwin yang pertama kali.Dilihat dari kacamata ilmu modern sekarang,tanpak adanya
kejangalan-kejangalan pada keterangan Anaximondros tentang kejadian alami.Akan
tetapi,dititik dari masanya,dimana segala keterangan berdasarkan pada takhayul
dan cerita yang ganjil-ganjil,pendapatnya itu merupakan buah pikiran yang
maju,sehingga cukup untuk menilai Anaximondros sebagai pemikir yang
genius.Sebagai filosof,ia mempunyai pandangan bahwa alam adalah satu,tetapi
prinsip dasar tentang alam tersebut bukan dari jenis benda alam seperti air
sebagaimana yang dikatakan gurunya.Prinsip dasar alam berasal dari jenis yang
tak terhitung dan tak terbatas,yang disebut Apeiron
.[3]
Demikianlah kesimpulan hukum dunia menurut pandangan
Anaximondros.Dari situ tanpak kelebihannya dari pada gurunya.Selagi Thales
berpendapat bahwa barang yang asal itu
salah satu dari yang lahir,yang tampak,yang berhingga juga,Anaximondros
meletakannya di luar alam yang memberikan sifat yang tiada berhingga padanya
dengan tiada dapat diserupai.Meskipun teori tentang asal kejadian alam tidak begitu jelas,dia adalah
seorang yang cakap dan cerdas.Dia tidak mengenal ajaran Islam atau Kristen
bahwa semula tidak ada dunia lantas diciptakan menjadi ada dan nanti akan
menjadi kembali tidak ada dengan cara being
and becoming.Tidak pula,dia mengenal kepercayaan India yang beranggapan ada
Tuhan yang bertugas menciptakan,ada yang bertugas memelihara dan ada pula yang
bertugas merusak.Baginya,alam adalah belantara keabadian dimana dunia kita juga
berada,tidak ada penciptaan dan tidak ada permusuhan,yang ada yang
gerak,evolusi dan perkembangan abadi dan dunia yang ada adalah salah satu
perwujutannya.Dalam perincian,teorinya menjemukan,tetapi pada garis besarnya,ia
memakai metode ilmiah.Menurut dia,manusia yang ada adalah hasil dari evolusi
dan perkembangan.Semua makhlukhidup berasal dari proses penguapan air samudra
oleh matahari.Manusia,sebagaimana binatang,berasal dari ikan.Anaximondros
sangat terpesona oleh pemandangan ikan,anjing laut,dan dia mengangap bahwa
mereka mata rantai yang berada antara jenis ikan dan jenis binatang.Manusia
tentu berasal dari binatang lain,karena waktu perawatanya,pada waktu
kanak-kanak,memekan waktu yang begitu panjang,sedangkan jenis binatang lainya
begitu dilahirkan telah dapat memperoleh makanannya sendiri,maka dia telah tidak
dapat bertahan hidup sebagaimana manusia yang ada kini.[4]
Sifat-sifat yang diberikan Anaximondros tentang
Apeiron,yaitu sebagai zat atau sesuatu yang tak terhingga,tak terbatas,tak
dapat di serupakan dengan alam,pemahaman tentang apeiron dapat dianalodikan
dengan pemahaman orang muslim tentang Tuhan.
Radhakrishnan menulis tentang aperion ini dalam
kalimat sebagai”All that existence is worthy to decay,’’ artinya bahwa segala
yang dapat menampakkan diri pasti akan mengelami kerusakan,sehingga tidak
abadi.[5]
Pendapatnya yang lain,bumi seperti silinder,lebarnya
tiga kali lebih besar dari tingginya.Bumi tidak terletak atau bersandar pada
sesuatu pun.Mengapa bumi tidak jatuh? Karena bumi berada di pusat jagat
raya.pemikirannya ini harus dipandang sebagai titik ajaran yang mengherankan
bagi orang-orang modern.
B.Anaximenes
Anaximenes(585-494) adalah murid Anaximondros.Ia
adalah filosuf alam terakhir dari kota Miletos.Sesudah ia meninggal dunia
kemajuan filosof alam berakhir di kota tersebut.Banyak ahli fikir dari kota
tersebut sebab kota Miletus pada tahun
494 SM di serang dan ditaklukkan oleh bangsa Persia.Dengan kepergian para ahli
piker itu, maka kebesaran kota Miletos sebagai pusat pengajaran filosofi alam
lenyap.
Pandangan filsafat nya tentang kejadian alam ini
sama dasarnya dengan pandangan gurunya.Ia mengajarkan bawa barang yang asal itu
satu dan tidak berhingga.Hanya saja ia tidak dapat menerima ajaran
Anaximondros,bahwa barang yang asal itu tidak ada persamaan nya dengan barang
yang lain dan tak dapat di rupakan,baginya yang asal itu mestilah satu dari
yang ada dan yang tampak.Barang yang asal itu adalah udara.Udara itu lah yang
satu dan tak berhingga.Pandangan Anaximenes tersebut didasarkan atas
alasan-alasan sebagai berikut:
1. Suatu
kenyataan bahwa udara itu terdapat dimana-mana.Dunia ini diliputi oleh
udara,tidak ada satu ruangan pun yang tidak ada terdapat udara didalamnya.Oleh
karena itu,udara tidak ada habis-habisnya,tidak berkesudahan dan tidak
berkeputusan.
2. Suatu
keistimewaan dari udara ialah ia senantiasa bergerak.Oleh karena itu,udara
memegang peranan yang sangat penting dalam berbagai rencana kejadian dan
perubahan dalam ala mini.
3. Udara
adalah unsur kehidupan .Udara adalah dasar hidup.Tidak ada satupu yang bias
hidup tanpa udara.Oleh karena itu,ia dapat menerima ajaran gurunya,bahwa’’jiwa
itu serupa dengan udara”.Sebagai kesimpulan atas ajaranya,ia mengatakan
“sebagai mana jiwa kita,yang tidak lain dari udara,menyatukan tubuh
kita,demikian juga udara mengikat alami ini menjadi satu “.Maksudnya,jiwalah yang
menyusun tubuh manusia menjadi satu,dan menjaga agar tubbuh tidak menjadi
bercerai-berai.Kalau jiwa keluar dari badan,badan menjadi mati,hancur dan
bercerai-berai bagian-bagianya.Juga alam besar ini ada karena udara,udaralah
yang menjadi dasar hidupnya,jika tidak ada udara,jika tak ada udara,hancurlah
alam ini.Dengan demikian,alam (makro kosmos) dan manusia (mikro kosmos) itu
pada dasarnya satu rupa.[6]
Dalam pandangan tentang asal,Anaximenes turun
kembali ke tingkat yang sama dengan Thales,kedua-duanya berpendapat,yang asal
itu mestilah salah satu dari yang ada dan yang kelihatan.Thales mengatakan air
asal dan kesudahan dari segala-galanya.Anaximenes mengatakan udara.Udara yang memalut dunia
ini,,menjadi sebab bagi segala yang hidup.Jika tak ada udara itu,tak ada yang
hidup.Pikiranya kesana barang kali terpengaruh oleh ajaran
anazimandros,bahwa’’jiwa itu serupa dengan udara’’.Sebagai kesimpulan ajaranya
dikatakan:’’sebagaimana jiwa kita,yang tidak lain dari udara,menyatukan tubuh
kita,demikian pula udara mengikat dunia ini menjadi satu’’.
Disini untuk pertama kali pengertian jiwa masuk
kedalam pandangan filosofis.Hanya Anaximenes yang tidak melanjutkan pemikiranya
kepada soal penghidupan jiwa.Soal ini terletak di luar garis filosofi alam,yang
mencari sebab penghabisan dari alam ini.Soal jiwa yang mengenai alam
kecil,perasaan manusia yang hidup dalam pergaulan, baru kemudian menjadi
masalah yang penting bagi filosofi.Baru Aristoteles memulai mengusapnya.Dengan
itu dihidupkanya cabang ilmu baru,yang kemudian diberi nama psikologi.
Anaximenes yang mencari asal
alam,belum memperhatikan benar soal jiwa dalam penghidupan
masyarakat.Kepentinhan jiwa itu tampak olehnya dalam perhubungan alam besar
saja.Jiwa itu menyusun tubuh manusia jadi satu dan menjaga supaya tubuh itu
janagan gugur dan bercerai-berai.Kalau jiwa itu keluar dari badan,matilah badan
itu dan bagian-bagianya mulai bercerai berai.Juga alam besar itu ada karena ada
udara.Udaralah yang menjadi dasar hidupnya.Kalau tak ada udara,gugurlah
semuanya itu.Makro-kosmos (alam) dan mikro kosmos (manusia) pada dasarnya
satu rupa.[7]
Menurut pendapat Anaximenes udara
itu benda materi.Tetapi sungguhpun dasar hidup dipandang nya sebagai benda,ia
membedakan pula antara yang hidup dengan
yang mati.Badan mati,karena menghembuskan jiwa itu keluar.Yang mati tidak
berjiwa.Dalam hal ini berbeda pendirian nya dengan Thales,yang menyangka bahwa
benda mati itu juga berjiwa.Amaximenes terlepas dari pandangan animisme.Aneximenes mengemukakan suatu soal
baru yang belum didapat dari Thales dan Anaximandros.Ketiga-tiganya berpendapat
bahwa ada yang asal yang menjadi pokok segalanya.Tetapi Anaximendes maju
selangkah lagi dengan bertanya ‘’Gerakan apakah yang menyebabkan terjadinya
alam yang lahir yang banyak ragam dan macamnya dari barang asal yang satu
itu?’’
Sebagai ahli ilmu alam Anaximendes
mencari jawabannya dengan memperhatikan pengalaman.Semuanya terjadi dari udara.Kalau
udara diam saja,sudah tentu tidak terjadi yang lahir itu dengan berbagai macam
dan ragam.Sebab itu gerak udaralah yang menjadi sebab jadinya.Udara bias jarang
dan padat.Kalau udara menjadi jarang,terjadilah api.Kalau udara berkumpul
menjadi rapat,terjadilah angin dan awan.Bertambah padat sedikit lagi,turun
hujan dari awan itu.Dari air terjadilah tanah dan tanah yang sangat padat
menjadi batu.
Disini caranya mengupas soal
menunjukkan derajat pikiran yang lebih tinggi.Tetapi dalam pahamnya membangun
alam ia terbelakang dari Anaximondros.Menurut pandangannya dunia ini datar
seperti meja bundar,dan dibawahnya ditopang oleh udara.Udara yang menhangkatnya
itu tidak mempunyai ruang untuk bergerak dan bersebar,sebab itu tetapi
duduknya.Dan oleh karena itu bumi ini tetap pada tempatnya.
Menurut dia,ruh adalah udara,api
juga udara-udara dalam keadaan memuai,jika dipadatkan,maka udara mula-mula
menjadi air,kemudian jika dipadatkan lagi menjadi tanah,dan akhirnya menjadi
batu.Dibanding pemikiran orang sebelumnya,pemikiran dia adalah reaksioner.Dia
mengiaskan dunia dengan diri kita:”sebagaimana ruh dan jiwa kita terdiri dari
udara yang mengelilingi kita,begitu juga nafas dan udara mengepung dunia
keseluruhanya’’.Menurut dia,seolah-olah bumi ini juga bernafas.Dia beranggapan
bahwa bumi berbentuk datar dan terapung di atas udara dari segala penjuru
seperti daun kering yang sedang berterbangan.Benda-benda di langit juga
terapung di dalam udara.Ia belum mengenal bahwa bumi mempunyai bentuk yang
melengkung dan membentuk barang bulat seperti buah apel atau jeruk,dia
beranggapan seperti orang-orang pada zamanya bahwa bumi adalah datar sebagai
cakram atau meja bundar,dan berpendapat bahwa langit melindunginya sebagai
caping atau topi.[8]
Disamping itu iya juga merupakan
filosuf yang pertama kali memperbincangkan jiwa dalam pandangan filsafat.Hanya
saja Anaximenes tidak melanjutkan pemikiranya soal kehidupan jiwa,memang soal
ini diluar garis filosofi alam.
No comments:
Post a Comment