- See more at: http://kabarmalam.blogspot.co.id/2012/12/efek-kupu-kupu-terbang-di-blog.html#sthash.o7vMeXRf.dpuf

Wednesday, June 10, 2015

Filsafat umum - Pemikiran Anaximandros dan Anaximenes

BAB II
PEMBAHASAN
A.Anaximandros
Anaximandros(610-547 M) adalah murid Thales.Usianya limabelas tahun lebih muda dari pada Thales,tetapi meninggal dunia dua tahun lebih dahulu.Sebagai filosof,ia lebih besar daripada gurunya.Ia juga ahli astronomi,di samping itu,ia juga ahli ilmu bumi.Ia adalah orang pertama yang mengarang suatu traktat dalam kesusasteraan Yunani .Ia merupakan orang pertama yang membuat peta bumi.Ia berhasil memimpin sekelompok orang yang membuat kota baru di Apollonia,Yunani.[1]
Sama halnya dengan gurunya,Anaximandos juga ingin mencari asal dari segalanya.Ia tidak menerima saja apa yang diajarkan oleh gurunya.Yang dapat diterima akalnya adalah bahwa yang asal itu satu,tidak banyak.Akan tetapi,yang satu itu bukan air,dan bukan suatu anasir yang dapat diamati oleh pancaindra,menurut  Anaximondros,segala sesuatu itu berasal dari to apeiron,yaitu yang tak terbatas,sesuatu yang tidak terhingga,tanpa  bentuk dan batas,sehingga tidak ada yang menyerupai dia.Apeiron atau infinitas memiliki sifat yang abadi,tidak pernah musnah dan dapat dihancurkan,oleh sebab memang ia tidah tampak.Kenyataan”ADA’’ nya Aperion karena kentataan ke “KETIADAAN” nya,sehingga apabila ia “ada” berarti ia “tiada”,sebab ia menjadi terbatas dapat diamati bentuk nya dan dengan sendirinya dapat dimusnahkan.
Menurut Anaximandros,Apeiron itu tidak dapat dirupakan,tidak ada persamaanya dengan salah satu barang yang kelihatan di dunia ini,sebab segala yang kelihatan itu,yang dapat ditentukan rupanya dengan pancaindra kita adalah  barang yang mempunyai akhir yang berhingga.Oleh sebab itu ,apeiron adalah barang yang asal,yang tidak berhingga dan tidak berkeputusan itu mustahil bagi salah satu  dari barang yang  berakhir itu.Segala yang tampak dan terasa di batasi oleh lawannya.Yang panas dibatasi oleh yang dingin.Di mana bermula yang dingin,disana yang berakhir panas.Yang cair dibatasi oleh yang beku.Yang terang dibatasi oleh yang gelap.Bagaimana yang terbatas itu dapat memberikan sifat kepada yang tidak berkeputusan.[2]
Segala yang tampak dan terasa,segala yang dapat ditentukan rupanya  dengan pancaindra kita.semuanya itu mempunyai akhir.Ia timbul (jadi),hidup,mati,dan lenyap.Segala yang berakhir  berada dalam kejadian senantiasa,yaitu dalam keadaan berpisah dari yang satu kepada yang lain.Yang cair menjadi beku dan sebaliknya.Semuanya itu terjadi dari ada Apeiron dan kembali pula kepada  Apeiron . Kemudian Anaximondros menerangkan bagaimana dari Apeiron timbul alam semesta.Bermula dari Apeiron,keluarlah yang panas yang dingin.Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin itu terkandung didalam nya.Dari yang dingin itu terjadi lah yang cair dan yang beku.Yang beku inilah kemudian yang menjadi bumi.Api yang membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula,dan pecahan-pecahan itu berputar-putar,dan kemudian terpisah-pisah maka terjadilah matahari,bulan dan bintang-bintang.Adapun bumi pada iwalnya dibalut oleh uap yang basah.Karena berputar terus-menerus,yang basah itu secara berangsur-angsur menjadi kering,akhirnya tinggallah sisa uap yang basah itu sebagai laut pada bumi.
Mengenai terjadinya mahluk di bumi,Anaximondros menerangkan bahwa atas pengaruh yang pantas tersebut,dari uap yang basah di bumi itu terjadilah mahluk hidup,yang kemudian secara bertingkat-tingkat mengelami kemajuan dalam hidupnya.Pada mulanya,bumi ini diliputi air semata-mata.Oleh sebab itu,makhluk pertama di atas bumi ialah hewan yang hidup di dalam air,seperti ikan.Akan tetapi,setelah tanah semakin kering,maka timbullah daratan maka makhluk yang lain mulai berkembang di atas daratan. Mengenai manusia,Anaximondros mengatakan bahwa dari binatang yang berupa ikan itulah terjadi manusia yang pertama.Manusia bermula tidak bias serupa dengan manusia sekarang,sebab orang yang dilahirkan dalam bentuk bayi sekarang memerlukan asuhan yang orang lain.Mahluk seperti itu tidak bias hidup pada permulaan penghidupan di atas dunia ini.Satu-satunya yang bias menolong dirinya sendiri sejak lain hanyalah binatang berupa ikan.
Pendapat Anaximondros tentang kejadian dan kemajuan mahluk di dunia ini banyak menyerupai teori evolusi Darwin yang muncul pada abad ke-19.Tidak heran,kalau orang mengarang lelucon bahwa Anaximondros patut dipandang sebagai  ‘’Darwinis’’,yaitu pengikut Darwin yang pertama kali.Dilihat dari kacamata  ilmu modern sekarang,tanpak adanya kejangalan-kejangalan pada keterangan Anaximondros tentang kejadian alami.Akan tetapi,dititik dari masanya,dimana segala keterangan berdasarkan pada takhayul dan cerita yang ganjil-ganjil,pendapatnya itu merupakan buah pikiran yang maju,sehingga cukup untuk menilai Anaximondros sebagai pemikir yang genius.Sebagai filosof,ia mempunyai pandangan bahwa alam adalah satu,tetapi prinsip dasar tentang alam tersebut bukan dari jenis benda alam seperti air sebagaimana yang dikatakan gurunya.Prinsip dasar alam berasal dari jenis yang tak terhitung dan tak terbatas,yang disebut Apeiron .[3]
Demikianlah kesimpulan hukum dunia menurut pandangan Anaximondros.Dari situ tanpak kelebihannya dari pada gurunya.Selagi Thales berpendapat bahwa barang yang  asal itu salah satu dari yang lahir,yang tampak,yang berhingga juga,Anaximondros meletakannya di luar alam yang memberikan sifat yang tiada berhingga padanya dengan tiada dapat diserupai.Meskipun teori tentang asal  kejadian alam tidak begitu jelas,dia adalah seorang yang cakap dan cerdas.Dia tidak mengenal ajaran Islam atau Kristen bahwa semula tidak ada dunia lantas diciptakan menjadi ada dan nanti akan menjadi kembali tidak ada dengan cara being and becoming.Tidak pula,dia mengenal kepercayaan India yang beranggapan ada Tuhan yang bertugas menciptakan,ada yang bertugas memelihara dan ada pula yang bertugas merusak.Baginya,alam adalah belantara keabadian dimana dunia kita juga berada,tidak ada penciptaan dan tidak ada permusuhan,yang ada yang gerak,evolusi dan perkembangan abadi dan dunia yang ada adalah salah satu perwujutannya.Dalam perincian,teorinya menjemukan,tetapi pada garis besarnya,ia memakai metode ilmiah.Menurut dia,manusia yang ada adalah hasil dari evolusi dan perkembangan.Semua makhlukhidup berasal dari proses penguapan air samudra oleh matahari.Manusia,sebagaimana binatang,berasal dari ikan.Anaximondros sangat terpesona oleh pemandangan ikan,anjing laut,dan dia mengangap bahwa mereka mata rantai yang berada antara jenis ikan dan jenis binatang.Manusia tentu berasal dari binatang lain,karena waktu perawatanya,pada waktu kanak-kanak,memekan waktu yang begitu panjang,sedangkan jenis binatang lainya begitu dilahirkan telah dapat memperoleh makanannya sendiri,maka dia telah tidak dapat bertahan hidup sebagaimana manusia yang ada kini.[4]
Sifat-sifat yang diberikan Anaximondros tentang Apeiron,yaitu sebagai zat atau sesuatu yang tak terhingga,tak terbatas,tak dapat di serupakan dengan alam,pemahaman tentang apeiron dapat dianalodikan dengan pemahaman orang muslim tentang Tuhan.
Radhakrishnan menulis tentang aperion ini dalam kalimat sebagai”All that existence is worthy to decay,’’ artinya bahwa segala yang dapat menampakkan diri pasti akan mengelami kerusakan,sehingga tidak abadi.[5]
Pendapatnya yang lain,bumi seperti silinder,lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya.Bumi tidak terletak atau bersandar pada sesuatu pun.Mengapa bumi tidak jatuh? Karena bumi berada di pusat jagat raya.pemikirannya ini harus dipandang sebagai titik ajaran yang mengherankan bagi orang-orang modern.

B.Anaximenes
Anaximenes(585-494) adalah murid Anaximondros.Ia adalah filosuf alam terakhir dari kota Miletos.Sesudah ia meninggal dunia kemajuan filosof alam berakhir di kota tersebut.Banyak ahli fikir dari kota tersebut sebab kota  Miletus pada tahun 494 SM di serang dan ditaklukkan oleh bangsa Persia.Dengan kepergian para ahli piker itu, maka kebesaran kota Miletos sebagai pusat pengajaran filosofi alam lenyap.
Pandangan filsafat nya tentang kejadian alam ini sama dasarnya dengan pandangan gurunya.Ia mengajarkan bawa barang yang asal itu satu dan tidak berhingga.Hanya saja ia tidak dapat menerima ajaran Anaximondros,bahwa barang yang asal itu tidak ada persamaan nya dengan barang yang lain dan tak dapat di rupakan,baginya yang asal itu mestilah satu dari yang ada dan yang tampak.Barang yang asal itu adalah udara.Udara itu lah yang satu dan tak berhingga.Pandangan Anaximenes tersebut didasarkan atas alasan-alasan sebagai berikut:
1.      Suatu kenyataan bahwa udara itu terdapat dimana-mana.Dunia ini diliputi oleh udara,tidak ada satu ruangan pun yang tidak ada terdapat udara didalamnya.Oleh karena itu,udara tidak ada habis-habisnya,tidak berkesudahan dan tidak berkeputusan.
2.      Suatu keistimewaan dari udara ialah ia senantiasa bergerak.Oleh karena itu,udara memegang peranan yang sangat penting dalam berbagai rencana kejadian dan perubahan dalam ala mini.
3.      Udara adalah unsur kehidupan .Udara adalah dasar hidup.Tidak ada satupu yang bias hidup tanpa udara.Oleh karena itu,ia dapat menerima ajaran gurunya,bahwa’’jiwa itu serupa dengan udara”.Sebagai kesimpulan atas ajaranya,ia mengatakan “sebagai mana jiwa kita,yang tidak lain dari udara,menyatukan tubuh kita,demikian juga udara mengikat alami ini menjadi satu “.Maksudnya,jiwalah yang menyusun tubuh manusia menjadi satu,dan menjaga agar tubbuh tidak menjadi bercerai-berai.Kalau jiwa keluar dari badan,badan menjadi mati,hancur dan bercerai-berai bagian-bagianya.Juga alam besar ini ada karena udara,udaralah yang menjadi dasar hidupnya,jika tidak ada udara,jika tak ada udara,hancurlah alam ini.Dengan demikian,alam (makro kosmos) dan manusia (mikro kosmos) itu pada dasarnya satu rupa.[6]
Dalam pandangan tentang asal,Anaximenes turun kembali ke tingkat yang sama dengan Thales,kedua-duanya berpendapat,yang asal itu mestilah salah satu dari yang ada dan yang kelihatan.Thales mengatakan air asal dan kesudahan dari segala-galanya.Anaximenes  mengatakan udara.Udara yang memalut dunia ini,,menjadi sebab bagi segala yang hidup.Jika tak ada udara itu,tak ada yang hidup.Pikiranya kesana barang kali terpengaruh oleh ajaran anazimandros,bahwa’’jiwa itu serupa dengan udara’’.Sebagai kesimpulan ajaranya dikatakan:’’sebagaimana jiwa kita,yang tidak lain dari udara,menyatukan tubuh kita,demikian pula udara mengikat dunia ini menjadi satu’’.
Disini untuk pertama kali pengertian jiwa masuk kedalam pandangan filosofis.Hanya Anaximenes yang tidak melanjutkan pemikiranya kepada soal penghidupan jiwa.Soal ini terletak di luar garis filosofi alam,yang mencari sebab penghabisan dari alam ini.Soal jiwa yang mengenai alam kecil,perasaan manusia yang hidup dalam pergaulan, baru kemudian menjadi masalah yang penting bagi filosofi.Baru Aristoteles memulai mengusapnya.Dengan itu dihidupkanya cabang ilmu baru,yang kemudian diberi nama psikologi.
Anaximenes yang mencari asal alam,belum memperhatikan benar soal jiwa dalam penghidupan masyarakat.Kepentinhan jiwa itu tampak olehnya dalam perhubungan alam besar saja.Jiwa itu menyusun tubuh manusia jadi satu dan menjaga supaya tubuh itu janagan gugur dan bercerai-berai.Kalau jiwa itu keluar dari badan,matilah badan itu dan bagian-bagianya mulai bercerai berai.Juga alam besar itu ada karena ada udara.Udaralah yang menjadi dasar hidupnya.Kalau tak ada udara,gugurlah semuanya itu.Makro-kosmos (alam) dan mikro kosmos (manusia) pada dasarnya satu rupa.[7]
Menurut pendapat Anaximenes udara itu benda materi.Tetapi sungguhpun dasar hidup dipandang nya sebagai benda,ia membedakan pula antara yang  hidup dengan yang mati.Badan mati,karena menghembuskan jiwa itu keluar.Yang mati tidak berjiwa.Dalam hal ini berbeda pendirian nya dengan Thales,yang menyangka bahwa benda mati itu juga berjiwa.Amaximenes terlepas dari pandangan  animisme.Aneximenes mengemukakan suatu soal baru yang belum didapat dari Thales dan Anaximandros.Ketiga-tiganya berpendapat bahwa ada yang asal yang menjadi pokok segalanya.Tetapi Anaximendes maju selangkah lagi dengan bertanya ‘’Gerakan apakah yang menyebabkan terjadinya alam yang lahir yang banyak ragam dan macamnya dari barang asal yang satu itu?’’
Sebagai ahli ilmu alam Anaximendes mencari jawabannya dengan memperhatikan pengalaman.Semuanya terjadi dari udara.Kalau udara diam saja,sudah tentu tidak terjadi yang lahir itu dengan berbagai macam dan ragam.Sebab itu gerak udaralah yang menjadi sebab jadinya.Udara bias jarang dan padat.Kalau udara menjadi jarang,terjadilah api.Kalau udara berkumpul menjadi rapat,terjadilah angin dan awan.Bertambah padat sedikit lagi,turun hujan dari awan itu.Dari air terjadilah tanah dan tanah yang sangat padat menjadi batu.
Disini caranya mengupas soal menunjukkan derajat pikiran yang lebih tinggi.Tetapi dalam pahamnya membangun alam ia terbelakang dari Anaximondros.Menurut pandangannya dunia ini datar seperti meja bundar,dan dibawahnya ditopang oleh udara.Udara yang menhangkatnya itu tidak mempunyai ruang untuk bergerak dan bersebar,sebab itu tetapi duduknya.Dan oleh karena itu bumi ini tetap pada tempatnya.
Menurut dia,ruh adalah udara,api juga udara-udara dalam keadaan memuai,jika dipadatkan,maka udara mula-mula menjadi air,kemudian jika dipadatkan lagi menjadi tanah,dan akhirnya menjadi batu.Dibanding pemikiran orang sebelumnya,pemikiran dia adalah reaksioner.Dia mengiaskan dunia dengan diri kita:”sebagaimana ruh dan jiwa kita terdiri dari udara yang mengelilingi kita,begitu juga nafas dan udara mengepung dunia keseluruhanya’’.Menurut dia,seolah-olah bumi ini juga bernafas.Dia beranggapan bahwa bumi berbentuk datar dan terapung di atas udara dari segala penjuru seperti daun kering yang sedang berterbangan.Benda-benda di langit juga terapung di dalam udara.Ia belum mengenal bahwa bumi mempunyai bentuk yang melengkung dan membentuk barang bulat seperti buah apel atau jeruk,dia beranggapan seperti orang-orang pada zamanya bahwa bumi adalah datar sebagai cakram atau meja bundar,dan berpendapat bahwa langit melindunginya sebagai caping atau topi.[8]
Disamping itu iya juga merupakan filosuf yang pertama kali memperbincangkan jiwa dalam pandangan filsafat.Hanya saja Anaximenes tidak melanjutkan pemikiranya soal kehidupan jiwa,memang soal ini diluar garis filosofi alam.









No comments:

Post a Comment